Pemimpin Tak Butuh Jabatan untuk Membawa Perubahan

Pemimpin Tak Butuh Jabatan untuk Membawa Perubahan

You Don’t Need a Title to be a Leader adalah buku tentang kepemimpinan yang ditulis oleh Mark Sanborn. November 2014 lalu saya bertemu dengan  penulis best seller “The Fred Factor” itu saat ia menjadi keynote speaker pada konferensi CETPA 2014 di Sacramento, California. Satu hal yang menjadi substansi presentasi Mark saat itu yaitu bahwa setiap orang, terlepas apakah ia punya jabatan atau tidak, adalah pemimpin. Kesimpulan yang klise memang. Namun, kemampuannya mengurai substansi tersebut dalam contoh kehidupan sehari-hari dan merangkainya menjadi gambaran jelas yang utuh dalam pikiran pendengarnya sangat luar biasa. Itulah kekuatan Mark yang menjadi daya tariknya.

Lanjutkan membaca “Pemimpin Tak Butuh Jabatan untuk Membawa Perubahan”

Peran Guru: Ketika Hidup Tak Memberi Impian…

Peran Guru: Ketika Hidup Tak Memberi Impian…

Serentak hadirin memberikan standing applause sesaat setelah Fredi Lajvardi, seorang guru sekolah menengah di Arizona, U.S. menyelesaikan presentasinya. Dalam presentasinya, Fredi berbagi cerita bagaimana upayanya menginspirasi dan memotivasi siswa-siswanya yang sebagian besar adalah anak-anak imigran asal Amerika Latin yang sehari-hari harus berjuang untuk keluar dari masalah-masalah ekonomi, kekerasan kehidupan gang, mafia obat terlarang, dan tentunya legalitas mereka sebagai warga negara. Masih sambil berdiri dan bertepuk tangan, beberapa hadirin tampak mengusap air mata.

Lanjutkan membaca “Peran Guru: Ketika Hidup Tak Memberi Impian…”

Proaktif dan Perubahan: “Ah, Salah Saya!”

Proaktif dan Perubahan: “Ah, Salah Saya!”

An army of deer lead by a lion is more to be feared than an army of lion lead by a deer. – Philip of Macedonia

Kalimat Philip of Macedonia pada awal tulisan ini dikutip oleh Mark Sanborn dalam bukunya “You Don’t Need a Title to be a Leader.” Membaca kutipan itu membawa sebagian pikiran saya pada Jokowi. Beberapa hari terakhir, berita-berita menggambarkan bagaimana beberapa kepala pemerintahan negara lain bereaksi yang mengindikasikan kekhawatiran mereka atas kebijakan tegas Jokowi untuk menenggelamkan kapal nelayan asing yang mengambil ikan dari perairan laut indonesia secara ilegal. Jika itu mengindikasikan hal positif dari kepemimpinan Jokowi dan rasa segan negara lain terhadap Indonesia, maka itu layak membuat bangsa Indonesia tersenyum sumringah.

Lanjutkan membaca “Proaktif dan Perubahan: “Ah, Salah Saya!””

‘Kesombongan’ Ahok dan Semantika Al-Quran

‘Kesombongan’ Ahok dan Semantika Al-Quran

Tulisan ini bukan tentang Ahok. Meskipun baru-baru ini ia menghebohkan media dengan menyebut anggota DPR “munafik” karena berencana mengganti sistem pemilihan kepala daerah dari pemilihan langsung oleh rakyat menjadi pemilihan oleh DPRD. Berkali-kali komentar atau respon Ahok menyulut reaksi keras dari orang-orang dikomentarinya. Netizen di media sosial dan media masa online juga banyak yang berkomentar, baik itu tentang muatan yang disampaikan maupun gaya penyampaian Ahok. Dan…komentar pun beragam.

Lanjutkan membaca “‘Kesombongan’ Ahok dan Semantika Al-Quran”

Anakmu Bukan Anakmu: Tafsir Puisi Khalil Gibran

Anakmu Bukan Anakmu: Tafsir Puisi Khalil Gibran

Ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil mengenai pendidikan anak pada Hari Anak Nasional lewat puisi Khalil Gibran “Anakmu Bukan Anakmu. Simaklah puisi indahnya dan mari merenungkan bersama kandungan pelajaran dari bait-baitnya.

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada dirinya sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau.
Walau mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.
Kau dapat beri mereka kasih sayangmu, tapi tidak pikiranmu,
Sebab mereka memiliki pikiran sendiri.
Kau dapat beri rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka penghuni rumah masa depan,
Yang tak dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu, Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur.
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur yang darinya anak-anakmu bak anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mengarah sasaran pada jalur tanpa batas.
Dia melenturkanmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat cepat dan jauh.
Biarkan dirimu lentur di tangan Sang Pemanah untuk kebahagiaan,
Sebab Dia pun mengasihi si anak panah yang melesat.
Maka, Dia cinta busur yang mantap. Lanjutkan membaca “Anakmu Bukan Anakmu: Tafsir Puisi Khalil Gibran”